Minggu, 29 Maret 2009

Hama Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.)


Membahas hama penyakit tanaman memang tidak pernah ada habisnya karena kehadiran keduanya tidak pernah terlepas dari teknik budidaya. Seperti juga pada tanaman lain kehadiran hama dan penyakit selalu menjadi masalah pada tanaman kentang inipun seolah menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Bahkan ada kecenderungan tingkat penggunaan pestisida pada tanaman kentang lebih banyak dibandingkan tanaman lain. Ada dua hal yang menjelaskan fenomena ini, pertama hama penyakit yang menyerang tanaman kentang beragam mulai dari fase bibit hingga siap panen, sedangkan yang kedua begitu pentingnya komoditas ini sehingga untuk setiap fase pertumbuhannya dari mulai awal tumbuh sampai pasca panen harus dilindungi dengan pestisida. Padahal apabila kita cermati, serangan hama dan penyakitnya tidak seberapa, akibatnya tentu saja penggunaan pestisida pun menjadi tidak bijaksana.

Keberadaan hama penyakit pada tanaman kentang memang cukup beragam, namun hanya ada beberapa jenis saja yang menjadi organisme paling utama penyebab kerusakan, diantaranya hama pengorok daun, penggerek umbi, thrips, aphids, penyakit busuk pangkal batang, busuk daun, bercak kering, layu fusarium serta berbagai penyakit yang disebabkan virus.

Tanpa mengesampingkan bahayanya hama dan penyakit lain pada tanaman kentang, hingga saat ini penyakit yang diakibatkan virus pada tanaman kentang masih menjadi momok yang sangat menakutkan bagi petani kentang. Seperti kita ketahui bersama bahwa pengendalian pada tanaman apapun yang sudah terkena penyakit virus sangat sulit diatasi/disembuhkan karena sekalinya tanaman terjangkit maka sulit untuk mengembalikan pada kondisi semula, tidak terkecuali kentang. Sehingga satu-satunya jalan untuk memberantas virus adalah mencabut tanaman yang terserang. Cara lain yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit oleh virus adalah dengan membasmi vektor dan penyebab munculnya virus seperti aphids. Adalah suatu kekeliruan apabila kita ingin membasmi aphids tanpa mengenal lebih jauh apa dan bagaimana aphids itu.


Si Kecil Penghisap Cairan
Seperti apa bentuk aphids itu dan bagaimana cara mengenalinya? Berikut adalah uraian sedikit banyak mengenai aphids. Aphids merupakan binatang kecil berbentuk serangga yang berukuran sangat kecil (0.5 – 2 mm), memiliki permukaan tubuh yang halus dimana dia mencari makan dengan cara menghisap cairan tanaman. Perlu diketahui bahwa hama aphids ini merupakan salah satu hama serangga yang paling utama dan penting di dunia. Di Indonesia ada beberapa jenis aphids yang sering menyerang dan ditemukan pada tanaman kentang terutama di daerah Jawa diantaranya M. persicae, A. gossypii dan A. spiraecola. M. persicae merupakan vektor yang dapat menularkan penyakit virus tanaman kentang seperti PVA (Potato Virus A), PVY (Potato Virus Y), PVM(Potato Virus Mosaic) dan PLRV (Potato Leaf Roll Virus). Sedangkan A. gosypii dapat menularkan penyakit PVY dan PAM, serta A. Spiraecola dapat menularkan PVY. Sedangkan di Australia ada empat spesies aphids yang menyerang tanaman kentang seperti : aphids persik hijau, cowpea aphids, aphids kentang serta foxglove aphids.

Seperti yang dijelas sebelumnya, aphids dikategorikan ke dalam hama karena dia merusak tanaman dengan cara menghisap cairan. Semakin banyak hama yang ada pada tanaman , semakin banyak pula cairan yang habis terhisap oleh aphids. Hal ini akan menyebabkan daun menjadi keriting. Selain itu, serangga ini juga berpotensi sebagai penyebar virus penyakit tanaman kentang.

Tidak semua spesies aphids berpotensi sebagai hama di semua daerah, karena perbedaan lingkungan dan agroklimat lah yang menyebabkan suatu aphids dapat tumbuh dan berkembang. Seperti contoh di Australia Barat misalnya, aphids yang paling dominan dan berisiko sebagai hama sekaligus penyebar virus adalah Myzus persicae. Berdasarkan survey yang telah dilakukan, hama tersebut menjadi hama utama karena beberapa alasan diantaranya mampu bertahan hidup pada hampir semua tanaman budidaya, merupakan penular yang paling efisien dibandingkan hama lainnya dan terakhir beberapa populasi telah mengalami mutasi sehingga memiliki kekebalan dibandingkan jenis aphids yang lain akibatnya spesies ini cenderung lebih sulit dikendalikan. Tentu saja berbeda dengan tempat lainnya. Aphids memiliki penampakkan warna mulai dari hijau, kuning, hitam hingga berwarna ungu tergantung pada jenisnya. Bentuk pra-dewasa ditandai tanpa sayap dan membentuk 4 fase sebelum menjadi serangga dewasa, baik itu yang bersayap maupun tanpa sayap. Umumnya aphids memiliki sepasang cornicles (bagian mirip tanduk) yang sangat kecil di bagian ujung abdomen/perut.

Meskipun serangga ini mudah dikenali, namun kadangkala kita sering terkecoh dengan serangga lain yang mirip baik ukuran maupun bentuknya, seperti contoh belalang daun. Serangga tersebut bergerak sangat cepat begitu tersentuh/terganggu dengan cara meloncat atau pun terbang. Sedangkan aphids sebaliknya dimana pergerakannya sangat lambat dan tetap berada di tempat walaupun diganggu keberadaannya. Sebagai contoh, disaat anda akan mengamati bagian bawah daun dengan cara memutar bagian atas menjadi bagian bawah, serangga lain secara cepat akan beterbangan sedangkan aphids akan tetap menempel pada daun.

Siklus hidup biologis
Dalam keadaan iklim dingin, sebagian besar serangga aphids berkembang biak secara tidak kawin (dengan menghasilkan nimfa). Nimfa tersebut akan berubah secara bertahap menjadi serangga dewasa dalam ideal waktu kurang lebih 8 – 10 minggu. Kondisi alam dengan suhu yang dingin dan kelembaban tinggi menyebabkan perubahan nimfa menjadi aphids dewasa membutuhkan waktu lebih lama. Mulai dari nimfa tahap pertama hingga keempat, bentuknya nyaris sama. Dan setelah memasuki bentuk nimfa tahap empat itulah nimfa pradewasa akan berubah menjadi serangga dewasa yang bersayap maupun tanpa sayap. Serangga dewasa ini akan berkembangbiak kembali (reproduksi) dalam waktu kurang lebih 2 – 3 hari kemudian. Di Australia, sebagian besar aphids adalah betina. Karena dia bisa berkembang biak secara tidak kawin, maka untuk dapat memiliki keturunan, mereka tidak memerlukan pasangan sehingga daur hidupnya pun sangat singkat. Selama hidupnya aphids betina mampu menghasilkan ribuan aphids baru yakni hanya dalam waktu 4 – 6 minggu saja. Seiring dengan perkembangannya, maka aphids akan mudah sekali berpindah dari tempat satu ke tempat lain. Apabila dari suatu tempat terdapat sumber inokulum virus, maka sangat mudah bagi virus tersebut berpindah ke tanaman lain yang lebih sehat.

Infestasi
Kapan aphids melakukan Infestasi?
Infestasi berarti infeksi (masuknya bibit penyakit) yang melaju secara cepat pada permukaan atau menyebar pada tanaman. Infestasi aphids dimulai saat beberapa serangga aphids yang bersayap hinggap pada tanaman inang dimanapun berada. Aphids yang beterbangan dan hinggap di tanaman kentang tersebut bisa saja berasal dari beberapa tempat mulai dari yang jarak terdekat hingga beratus-ratus kilometer. Namun, dari beberapa macam aphids yang hinggap tersebut hanya satu saja yang bisa melakukan infestasi pada tanaman kentang.

Pada tanaman kentang, aphids jenis Myzus persicae (aphids persik hijau) selalu ditemukan pada bagaian daun yang paling bawah. Bila infestasi aphids menjadi besar dan mengumpul, aphids-aphids tersebut akan bergerak ke bagian atas daun untuk menghisap bagian daun yang lebih muda.

Pengendalian
Meskipun pengendalian hama aphids tergolong agak sulit terutama untuk aphids yang sudah kebal terhadap beberapa pestisida, namun bukan berarti aphids ini dibiarkan begitu saja. Agar pengendalian lebih efektif maka sebaiknya dihindarkan penyemprotan pestisida berdasarkan jadwal sesuai kalendar terutama disaat hama aphids tidak ditemukan dan cara lain adalah dengan mengunakan insektisida efektif seperti Winder 25WP, Winder 100EC atau Promectin 18EC dengan dosis sesuai anjuran. Pengamatan secara kontinyu dan berkelanjutan terhadap kepadatan dan populasi aphids pada tanaman kentang sebelum mencapai ambang ekonomi selain menghemat uang juga lebih efektif. Program pengamatan aphids dapat dilakukan dengan memilih 2 – 3 hamparan, dan dilihat sekitar 20 tanaman/hamparan. Berjalanlah secara diagonal pada hamparan anda, dan berhentilah setiap 2 –3 langkah untuk mengecek/memeriksa keberadaan aphids. Sesuai dengan hukum pengaruh tepi dimana disebutkan bahwa sebagian besar serangga aphids biasanya ditemukan pada tanaman border/pembatas sebab mereka memulai koloni baru pada tanaman yang berada di tepian terlebih dahulu. Hal ini disebabkan aphids lebih menyukai mendarat pada bagian tepinya saja daripada di bagian tengah hamparan. Hal yang terpenting agar tidak terjangkit virus adalah tanamlah bibit kentang yang benar-benar bebas virus.

Selain dengan pengamatan, pengendalian lain yang dapat dilakukan diantaranya :
Menanam tanaman yang tinggi terutama berwarna kuning seperti contoh jagung. Penanaman jagung yang dapat dipakai sebagai border ini bertujuan slain unutk menarik perhatian aphids yang menyukai warna kuning, juga aphids yang menyukai bagian tanaman tepi tentu saja akan hinggap lebih dahulu pada tanaman jagung sehingga resiko aphids hinggap pada tanaman utama lebih kecil.

Bila ada tanaman kentang yang ditemukan terserang virus, maka segeralah dilakukan pencabutan (roguing) untuk dimusnahkan. Hal ini dimaksudkan agar penyakit dari tanaman tersebut tidak segera menyebar ke tanaman lain karena adanya vektor berupa aphids.

Melakukan pemangkasan dini atau disebut juga pemangkasan haulms (batang kentang) beberapa waktu sebelum dipanen.

Pengertian Tentang Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.)


Kentang (Solanum tuberosum L.) adalah tanaman dari suku Solanaceae yang memiliki umbi batang yang dapat dimakan dan disebut "kentang" pula. Umbi kentang sekarang telah menjadi salah satu makanan pokok penting di Eropa walaupun pada awalnya didatangkan dari Amerika Selatan.

Penjelajah Spanyol dan Portugis pertama kali membawa ke Eropa dan mengembangbiakkan tanaman ini pada abad XVI. Dengan cepat menu baru ini tersebar di seluruh bagian Eropa. Dalam sejarah migrasi orang Eropa ke Amerika, tanaman ini pernah menjadi pemicu utama perpindahan bangsa Irlandia ke Amerika pada abad ke-19, di kala terjadi wabah penyakit umbi di daratan Irlandia yang diakibatkan oleh jenis jamur yang disebut ergot dan menurut pengertian secara biologi Tanaman kentang adalah salah satu tanaman budidaya tetraploid (2n = 4x = 40). Asalnya dari Amerika Selatan dan telah dibudidayakan oleh penduduk di sana sejak ribuan tahun silam. Tanaman ini merupakan herba (tanaman pendek tidak berkayu) semusim dan menyukai iklim yang sejuk. Di daerah tropis cocok ditanam di dataran tinggi.

Dan kentang juga selain mengandung karbohidrat, kentang juga kaya vitamin C. Hanya dengan makan 200 gram kentang, kebutuhan vitamin C sehari terpenuhi.

Kalium yang dikandungnya juga bisa mencegah hipertensi. Lebih dari itu, kentang dapat dibuat minuman yang berkhasiat untuk mengurangi gangguan saat haid.

Kentang merupakan lima kelompok besar makanan pokok dunia selain gandum, jagung, beras, dan terigu.

Bagian utama kentang yang menjadi bahan makanan adalah umbi, yang merupakan sumber karbohidrat, mengandung vitamin dan mineral cukup tinggi.

Tanaman kentang (Solanum tuberosum Linn.) berasal dari daerah subtropika, yaitu dataran tinggi Andes Amerika Utara. Daerah yang cocok untuk budi daya kentang adalah dataran tinggi atau pegunungan dengan ketinggian 1.000-1.300 meter di atas permukaan laut, curah hujan 1.500 mm per tahun, suhu rata-rata harian 18-21oC, serta kelembaban udara 80-90 persen.

Dibandingkan dengan produksi kentang di Eropa yang rata-ratanya mencapai 25,5 ton per hektar, produksi kentang di Indonesia masih sangat rendah. Rata-rata hanya 9,4 ton per hektar.

Rendahnya hasil tersebut terkait dengan mutu benih yang kurang baik (misalnya terinfeksi virus), teknologi bercocok tanam yang belum memadai, serta iklim yang kurang mendukung. Penanganan pascapanen yang kurang baik dapat menyebabkan kerusakan umbi kentang sebesar 2-10 persen serta menimbulkan bagian terbuang sekitar 10 persen.

Cukup 200 Gram
Kentang memiliki kadar air cukup tinggi, yaitu sekitar 80 persen. Itulah yang menyebabkan kentang segar mudah rusak, sehingga harus disimpan dan ditangani dengan baik. Pengolahan kentang menjadi kerupuk, tepung, dan pati, merupakan upaya untuk memperpanjang daya guna umbi tersebut.

Pati kentang mengandung amilosa dan amilopektin dengan perbandingan 1:3. Dari tepung dan pati kentang, selanjutnya dihasilkan berbagai produk pangan olahan dengan beragam citarasa yang enak dan penampilan menarik.

Kandungan karbohidrat pada kentang mencapai sekitar 18 persen, protein 2,4 persen dan lemak 0,1 persen. Total energi yang diperoleh dari 100 gram kentang adalah sekitar 80 kkal.

Dibandingkan beras, kandungan karbohidrat, protein, lemak, dan energi kentang lebih rendah. Namun, jika dibandingkan dengan umbi-umbian lain seperti singkong, ubi jalar, dan talas, komposisi gizi kentang masih relatif lebih baik.

Kentang merupakan satu-satunya jenis umbi yang kaya vitamin C, kadarnya mencapai 31 miligram per 100 gram bagian kentang yang dapat dimakan. Umbi-umbian lainnya sangat miskin akan vitamin C.
Kebutuhan vitamin C sehari 60 mg, untuk memenuhinya cukup dengan 200 gram kentang. Kadar vitamin lain yang cukup menonjol adalah niasin dan B1 (tiamin).

Dengan mengkonsumsi sebuah umbi kentang yang berukuran sedang, sepertiga kebutuhan vitamin C (33 persen) telah tercapai. Demikian juga halnya dengan sebagian besar kebutuhan akan vitamin B dan zat besi.

Pencegah Hipertensi
Kentang juga merupakan sumber yang baik akan berbagai mineral, seperti kalsium (Ca), fosfor (P), besi (Fe) dan kalium (K), masing-masing 26,0; 49,0; 1,1; dan 449 mg/100 g. Di lain pihak, kandungan natriumnya sangat rendah, yaitu 0,4 mg/100 g.

Rasio kalium terhadap natrium yang tinggi pada kentang sangat menguntungkan bagi kesehatan, khususnya terhadap pencegahan timbulnya penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi). Sebagaimana diketahui, bahwa konsumsi natrium (sodium) yang berlebih (dapat berasal dari garam dapur, monosodium glutamat/MSG, sodium bikarbonat) merupakan salah satu pencetus hipertensi. Di lain pihak, konsumsi kalium yang tinggi memberikan efek yang berlawanan, yaitu menurunkan tekanan darah.

Rasio natrium terhadap kalium yang paling ideal adalah 1:1. Konsumsi harian kita terhadap natrium yang berlebih (akibat membudayanya pemakaian MSG pada berbagai masakan), perlu diimbangi dengan konsumsi kalium yang tinggi.

Kentang merupakan bahan pangan yang sangat kaya kalium (449 mg/100 g). Selain kentang, bahan lain yang cukup kaya kalium adalah tomat dan pisang.

Rasio natrium terhadap kalium pada kentang dan tomat segar adalah sangat rendah, masing-masing 1:1100 dan 1:100. Pengolahan kentang menjadi kentang panggang (baked potato) akan menurunkan rasio tersebut menjadi 1:100, selanjutnya rasionya menurun lagi menjadi 9:10 pada pembuatan keripik (potato chips) dan menjadi 1,7:1 pada pembuatan salad kentang (potatao salad).

Penurunan rasio natrium terhadap kalium tersebut semata-mata akibat penggunaan garam NaCl atau penyedap MSG yang berlebihan. Dengan kata lain, proses pengolahan pangan dengan penambahan garam dapur dan MSG telah mengubah bahan pangan yang tadinya menyehatkan, menjadi makanan yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan.